mrapat.id

Baritan, Sapi PO Kebumen, Dari Era Kolonial Hingga Kekinian

Sapi Peranakan Ongol (PO) yang jadi produk unggulan kawasan Urut Sewu di Kebumen Selatan, ternyata telah moncer sejak era Kolonial Belanda. Berawal 1900-an, saat Residen Bagelen, Burnaby Latier, mendatangkan Sapi Benggala atau Ongole dari India. Kemudian, spesies tersebut dikawinkan dengan spesies lokal. Tak disangka, jenis tersebut berkembang dengan baik, hingga jadi unggulan. Ini karena, Pemerintah kompeni memberikan perhatian lebih. Dibuktikan pendampingan intensif, dari segi pembudidayaan dan pemasaran.

Uniknya, salah satu cara promosinya melalui tradisi lokal, yakni Baritan. Ritual ini merupakan perayaan syukur kepada Tuhan, atas limpahan kekayaan alam. Di kawasan Urut Sewu, Kebumen Selatan, Baritan mengambil tema utama raja kaya, yaitu hewan ternak yang dikembangbiakkan masyarakat sekitar.

Dalam artikel yang ditulis E. Schmulling di majalah INDIE pada 24 April 1918, Baritan di Urut Sewu, diadakan bersamaan dengan masa pendistribusian peranakan hasil budidaya. Bersamaan dengan itu, merupakan masa panen bagi para peternak sapi.

Dalam konteks lokal, Baritan dimaknai sebagai syukuran atas hasil peternakan yang diterima selama setahun. Karena itu ritual Baritan selalu dimulai dengan doa selamatan, yang dipimpin pemuka spiritual lokal dan diikuti khusus para peternak, perangkat desa dan pihak yang terlibat langsung dengan kegiatan peternakan.  Pada hari kedua barulah dilakukan selamatan untuk seluruh warga. Hari ketiga sebagai puncak  kegiatan diadakan berbagai pentas hiburan rakyat.

Pemerintah Hindia Belanda tampaknya melihat aspek promotif terhadap kegiatan ini. Mereka menempatkan Baritan sebagai sebuah event resmi pemerintahan dengan meningkatakan skala kegiatan. Festival Baritan versi pemerintah yang diadakan tahun 1914 terbukti mengundang pengunjung hingga sepuluh ribu pengunjung. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk masa itu. Tercatat pula kedatangan beberapa pejabat penting Hindia Belanda dari kawasan Bagelen.

Dalam perjalanannya, Festival Baritan hanya di kawasan Mirit. Ritual tersebut kemudian berkembang di empat puluh desa. Tempo lama program ini jadi sarana membangun kebanggaan warga Urut Sewu atas produk sapinya. Di sisi lain, merupakan cara ampuh mempromosikan sapi unggulan mereka. Meski demikian, seiring waktu, tradisi Baritan mulai meredup. Sekalipun sapi-sapi unggulan masih diternakkan di Urut Sewu, Baritan tinggal kenangan. (M32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *