mrapat.id

Kunes, Penari Penginjak Lelaki

Jika mendengar kata lengger atau ronggeng, bagi banyak orang yang terbayang adalah penari wanita yang menari dengan gerak-gerak energik dan sensual. Sementara di sekelilingnya mata lelaki menatap dengan liar tak mau kehilangan setiap momen untuk dinikmati. Tak pelak budayawan Ahmad Tohari pun mengangkat sisi-sisi erotisme lengger dalam diri tokoh Srintil dalam trilogi novelnya.

Demikianlah lengger pun berkembang yang terkesan menempatkan wanita sebagai obyek kesenangan lelaki. Dominasi lelaki semakin kentara pada saat mereka memberikan sawer kepada sang penari. Dengan memberikan uang sawer, yang seringkali sengaja diselipkan di kemben di bagian dada penari, sang lelaki mendapatkan hak untuk dilayani menari di atas panggung.

Dalam situasi seperti itulah, muncul Kunes, penari lengger yang lahir di Banyumas di sekitar tahun 1920. Kunes memiliki semua syarat untuk menjadi lengger idaman. Dengan postur tubuh tinggi, berisi, berkulit sawo matang dan berparas manis, pesona Kunes dilengkapi dengan suara sengau nan seksi. Olah geraknyapun serba mengundang bagi lelaki yang menatapnya.

Tak hanya pintar berolah gerak, Kunes pun piawai menabuh gamelan dan mencipta tembang. Sekalipun tak pernah bersekolah formal dan tidak mampu membaca tulis, Kunes menciptakan beberapa tembang yang bahkan masih populer hingga kini. Beberapa tembang yang diyakini merupakan ciptaan Kunes antara lain Siji Lima, Tlutur Geguritan, Sekar Gadung Idek dan Ilogondang.

Setiap kali Kunes naik panggung, berebut lelaki menjejalkan sawer ke dada Kunes untuk kemudian minta dilayani menari bersama. Sudah jamak di banyak tempat, bahwa pertunjukkan lengger tak lepas dari minuman keras. Maka sering pula para penari pria menari dengan sempoyongan, karena pengaruh tuak yang diminumnya. Di sinilah Kunes menunjukkan kepiawaiannya, untuk tetap melayani dengan senyum, namun dengan tetap waspada atas kekurangajaran mereka.

Berkali-kali terjadi, lelaki yang naik panggung sudah sedemikian mabuk hingga setengah tak sadar. Dalam kondisi ini Kunes akan tetap mengajaknya menari hingga sang lelaki terjerembab tertelungkup di atas panggung. Dan saat inilah akan muncul atraksi epik khas Kunes. Dengan elegan Kunes akan menginjak punggung lelaki tersebut sambil menari dan menyanyikan lagu Sekar Gadung. Konon karena itulah kemudian muncul garapan gending “Sekar Gadung Idek” (idek = menginjak jw.).

Bintang kesinaran Kunes mulai meredup pada 1960-an. Dia menghabiskan masa tuanya dalam kesendirian dan hidup kekurangan, berbeda jauh dengan masa keemasannya. Seakan belum cukup, Kunes pun kehilangan penglihatannya. Sekalipun hari-hari terakhir Kunes didampingi anak cucunya, dia tak dapat menyembunyikan rasa pahit karena memendang rindu atas gemerlapnya panggung lengger. Tahun 2000, Kunes menghembuskan nafas terakhir. Meninggalkan karya tembang dan garapan yang masih didendangkan para lengger hingga sekarang.

Jika suatu saat anda menyaksikan pertunjukan lengger dan mendengarkan tembang Sekar Gadung atau Siji Lima, ingatlah Kunes… (M32)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *