mrapat.id

Enthung Putut, Bahan Kudapan Nikmat dari Lebatnya Hutan Bakau Pantai Selatan

Mrapat.id – Dusun Jojok, Desa Kutawaru, Kecamatan Kutawaru, Cilacap merupakan wilayah pantai yang banyak memiliki hutan mangrove. Daerah ini dapat dikatakan memiliki potensi atraksi wisata yang cukup lengkap. Perjalanan  naik perahu menyeberang Segara Anakan sudah merupakan atraksi tersendiri. Belum lagi perjalanan menyusuri teduhnya hutan mangrove dan menyaksikan unit produksi Pertamina Cilacap dari dermaga Jojok.

Namun berbeda dengan wilayah lain yang buru-buru mendirikan loket untuk menjual tiket bagi pengunjung, warga Jojok mencoba melihat peluang lain untuk mendapatkan manfaat. Mereka mengolah berbagai tanaman dan buah yang ada di hutan mangrove untuk dijual sebagai cinderamata dan aneka kudapan.

Ditemui mrapat.id baru-baru ini, Tuti Suparno (42), salah satu anggota Kelompok Pelestari Mangrove Sidaasih mengungkapkan, mereka memproduksi kue basah maupun kering menggunakan buah bakau atau yang disebut enthung putut. Buah ini diolah menjadi kue pastel dan onde-onde. Untuk kue jenis basah, yang mereka produksi adalah putu ayu, brownies dan dodol. Saat ini produk mereka barru dipasarkan di seputaran Jojok, baik ke wisatawan umum maupun tamu kedinasan dan pelaku studi banding yang kerap datang ke Jojok.

Yang menarik, selain makanan mereka juga menjual cinderamata berupa bibit bakau. Buah bakau yang telah bertunas dimasukkan ke dalam tabung gelas berisi air. Jadilah hiasan meja yang tak hanya cantik namun juga memiliki kandungan edukasi ekologis.

Tuti menjelaskan, sebenarnya masih banyak potensi hutan mangrove yang belum dimanfaatkan. Diantaranya adalah tanaman jaruju untuk bahan jamu dan nipah untuk membuat garam nabati. Selain olahan di atas, sebagian lahan juga dimanfaatkan untuk menanam kayu putih (Melaleuca leucadendra). Program produktif milik Perhutani ini menggunakan skema kerjasama dengan warga.

Salah satu pengunjung dari Yogyakarta, Kezia Kristananda (21) mengungkapan kreativitas warga Jojok dengan menciptakan produk turunan dari hutan mangrove, warga jadi terpanggil untuk menjaga dan melestarikan kondisi hutan, “Ini berbeda dengan hutan mangrove tempat lain yang sebatas menyediakan spot selfie dan kurang memberikan edukasi,” ungkap Kezia.

Warga Jojok beruntung karena mendapatkan pendampingan dari Perhutani, Pertamina dan Yayasan Kanopi Indonesia. Harapannya, kegiatan produktif semacam ini akan menumbuhkan pola pengelolaan wisata berkelanjutan yang memprioritaskan kelestarian alam. (M31)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *