mrapat.id

Memburu Wijaya Kusuma “Asli” di Nusakambangan

Banyak orang salah mengira bahwa yang menjadi legenda dan ikon Kabupaten Cilacap adalah bunga Wijaya Kusuma yang berwarna putih, wangi dan hanya mekar di malam hari. Bunga ini banyak ditanam orang untuk menjadi penghias pagar. Bahkan saat ini banyak kolektor Wijaya Kusuma yang menyilangkan dengan varian-varian lain sehingga muncul berbagai warna.

Namun tahukah kalian, bahwa bunga yang dikenal dengan sebutan night queen itu bukan bunga yang menjadi legenda di Cilacap Nusakambangan. Bunga yang banyak dikenal masyarakat adalah bunga Wijaya Kusuma dengan nama latin Epiphyllum anguiler yang berasal dari Venezuela dan merupakan keluarga kaktus-kaktusan. Sedangkan bunga Wijaya Kusuma yang ada di Nusakambangan adalah bunga Wijaya Kusuma spesies Pisonia grandis var. Sylvestris.

Pisonia grandis var. Sylvestris sebenarnya tidak hanya ada di Nusakambangan. Karimun Jawa dan pulau Bali diketahui juga terdapat tanaman ini. Serta sepanjang pantai Chocos Island di Australia pun terdapat banyak hamparan pohon Wijaya Kusuma ini. Namun, hanya yang ada di Nusakambangan yang diketahui pernah berbunga.

Karena itulah sejak jaman Belanda, kawasan ini sudah dijadikan hutan lindung Wijaya Kusuma Penunjukan pulau karang ini menjadi Cagar Alam Wijaya Kusuma yaitu melalui Besluit Gubernur Jenderal Belanda No. 26 Staatsblad No. 382 tanggal 24 Juli 1923 dan diperkuat dengan SK Penunjukan Menteri Kehutanan No. SK. 359/Menhut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004.

Untuk semakin memperkuat basis data pelestarian Wijaya Kusuma, Selasa (4/2) Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah Resort Konservasi Wilayah II Cilacap melakukan ekspedisi Wijaya Kusuma ke Cagar Alam Wijaya Kusuma Nusakambangan. Peserta Ekspedisi Nusakambangan terdiri dari Kepala RKW II Cilacap, Dedi Rusyanto , staff RKW II Cilacap, Teguh Arifiyanto, HS. Adhitya Putra dan Ngadino , Masyarakat Mitra Polhut Nusakambangan Timur, Surip, serta komunitas Save Our Nusakambangan Island, Agus Kusmawanto, Gita Abu Rizal, Faisal Abdullah dan Widodo Setyo P .

Dalam analisis vegetasi yang dilakukan saat ekspedisi, diketahui terdapat pohon Wijaya Kusuma yang mempunyai keliling sebesar 215 cm dalam keadaan sudah mati dan rapuh. Diprediksi pohon tersebut sudah mati sekitar dua tahun lalu. Pada karang sisi utara terdapat empat buah pohon Wijaya Kusuma dengan tunas-tunas daun yang masih muda. Sedangkan pada karang sisi selatan terdapat dua buah pohon.

BKSDA mengambil beberapa sampel pohon Wijaya Kusuma guna dilakukan konservasi eksitu untuk diperbanyak dengan cara stek batang. Selain itu, rencananya BKSDA akan mengirim sampel tanaman ke LIPI untuk mendapatkan sertifikat tanaman asli berasal dari Nusakambangan. Konservasi perbanyakan tersebut dalam rangka untuk menjaga kepunahan pohon Wijaya Kusuma yang ada di Nusakambangan. (M32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *