mrapat.id

Ciplukan, Buah Naik Kelas Pengobat Kanker Payudara

Buah Ciplukan (Physalis angulata L.) sangat mudah ditemukan di seluruh pelosok nusantara. Di kawasan Sunda disebut cecenet, di Madura nyornyoran, Bali keceplokan sedang di Sumatera disebut leletep atau dedes. Sekalipun sudah begitu dekat dengan alam nusantara, ternyata ciplukan aslinya dari kawasan tropis di Amerika Selatan.

Tak jelas benar apakah tanaman ini terbawa secara tak sengaja ke nusantara,  atau memang didatangkan untuk dibudidayakan. Di balik rasa asam menyagarkan, ternyata ciplukan memiliki sejumlah khasiat kesehatan.

Kini ciplukan tengah diperbincangkan, katanya naik kelas. Jika semula hanya menjadi kudapan anak-anak desa yang blusukan ke kebun, sekarang ciplukan menjadi buah yang lazim diperdagangkan. Bahkan karena kelangkaannya, di beberapa supermarket dikabarkan harganya menembus angka ratusan ribu per kilo. Seberapa besar sih, manfaat ciplukan?


Dalam ciplukan, baik buah dan daunnya, terkandung berbagai senyawa penting. Beberapa diantaranya seperti saponin, flavonoid, polifenol, fisalin, asam sitrun, asam malat, alkaloid, tanin, kriptoxantin dan vitamin C yang kesemuanya memiliki andil besar terhadap kesehatan.

Manfaat daun dan buah ciplukan begitu beragam diantaranya seperti zat antioksidannya yang mampu mencegah beberapa penyakit kronis, efek anti-inflamasinya yang dapat menjaga kesehatan jantung hingga dapat dijadikan alternatif pengobatan bagi penderita kanker payudara.

Salah satu penelitian klinis telah dilakukan oleh Dr. Sumartini Dewi, dr. SpPD-KR,M.Kes, CCD, FINASIM dari Fakultas Kedokteran UI. Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Dr. Sumartini memberikan ekstrak ciplukan kepada  pasien penderita Skleroderma atau penyakit autoimun yang ditandai dengan pengerasan dan penebalan kulit dan masalah pada organ dalam tubuh.

Dari ujicoba itu didapat kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol herba ciplukan dosis 3×250 mg selama 12 minggu, sebagai terapi ajuvan pada skleroderma dalam terapi standar, secara klinis dan statistik menunjukkan perbaikan kelainan fibrosis (penebalan) kulit.

Sekalipun penelitian tadi masih memerlukan uji klinis lanjutan, setidaknya sudah terbukti bahwa ciplukan bukan sekedar tumbuhan perdu di kebun dan hutan. (M31)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *