mrapat.id

Angkatan Muda : Lembar Tercecer Sejarah Kebumen

Mrapat.id – Sejumlah peristiwa di Kebumen pada hari-hari pasca proklamasi 1945, kebanyakan ditelusur lewat sejarah militer. Status Kebumen yang terbelah garis status quo, menyebabkan sejarah Kebumen di tahun-tahun awal kemerdekaan banyak terpusat pada perspektif tersebut. Beberapa peristiwa didokumentasikan karena memiliki siginifikansi secara militer, semisal pertempuran Karanggayam dan Sidobunder. Bahkan kemelut  AOI (Angkatan Oemat Islam) yang begitu multi dimensi pun, ditelaah semata dari kacamata militer. Baru di era reformasi, beberapa pihak mencoba memberikan sudut pandang baru pada gerakan AOI.

Salah satu gerakan lokal yang juga sangat signifikan di awal kemerdekaan adalah Angkatan Muda. Gerakan ini diinisasi oleh para pekerja Pos, Telepon dan Telegram (PTT) Kebumen. Inisiatornya adalah Sri Darmadji. Tahun 1944 dia mulai dimutasi dari Kantor Pos Besar Bandung ke kantor PTT Kebumen. Bisa jadi sebelumnya, dia sudah aktif di Angkatan Muda Bandung sebelum kemudian menginisiasi gerakan serupa di Kebumen.

Tujuan Angkatan Muda sendiri adalah membangun jejaring bawah tanah tokoh-tokoh nasionalis, untuk memerdekakan Indonesia. Sekalipun ini adalah langkah yang sangat berbahaya mengingat ketatnya pengawasan Jepang, Sri Darmadji berhasil membangun jejaring di kalangan anak muda. Ada dua tokoh yang tercatat aktif, yaitu Wasilan dan Soemarsono.

Dalam buku ‘Perang Kemerdekaan Kebumen 1942-1950’ terbitan Balai Kajian Sejarah Depdikbud (1986), dituliskan bahwa sebagai sebuah gerakan bernafas sosialis. Angkatan Muda cenderung bersikap radikal. Sikap ini pula yang membuat mereka menjadi kelompok yang paling reaktif atas proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sementara banyak pihak masih bersikap ‘wait and see’. Angkatan Muda dengan cepat menggerakkan massa, untuk melakukan apel kemerdekaan masyarakat Kebumen pada 28 Agustus 1945. Aksi yang akhirnya diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat Kebumen. Ini bisa dibilang merupakan pernyataan politik pertama dari segenap rakyat Kebumen pasca kemerdekaan.

Tak hanya itu, Angkatan Muda juga berperan besar dalam pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Daerah. Ini merupakan sebuah bentuk pemerintahan sementara awal kemerdekaan. Tak berhenti sampai di situ, mereka melakukan gerakan pembersihan terhadap para lurah dan pegawai negeri yang dianggap pro Belanda. Tentu di beberapa tempat terjadi gesekan atas tindakan yang radikal ini.

Sejarawan Universitas Diponegoro, Singgih Tri Sulistiyono dalam bukunya Pemberontakan Angkatan Umat Islam (AUI) di Kebumen, 1950 sempat menyinggung keberadaan Angkatan Muda hubungannya dengan AOI. Menurutnya, pendirian AOI sedikit banyak juga merupakan reaksi atas terlalu dominannya Angkatan Muda, dalam percaturan politik daerah. Apalagi Angkatan Muda kemudian melebur menjadi Pemuda Sosialis Indonesia yang di kemudian hari terlibat dalam pemberontakan PKI Madiun.

Bisa jadi pilihan politik inilah, yang membuat peran Angkatan Muda dalam pembentukan pemerintah Kebumen pasca proklamasi cenderung diabaikan. Bagaimanapun, Angkatan Muda memiliki peran besar sebagai pelopor gerakan politik Kebumen pada masa itu. Sangat disayangkan, jika hal ini luput dari penelitian para sejarawan lokal. Lembaran yang hilang ini sudah saatnya diungkap dengan gamblang. (M32)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *