<script data-ad-client="ca-pub-9852753218845547" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
mrapat.id

RS. Raja Singa Gombong: Kisah “Nakal” Prajurit KNIL dan Pribumi

Mrapat.id – Sejak jaman kolonial, penyakit menular jadi momok di Hindia Belanda. Selain disentri, ada juga kolera dan yang paling mengerikan adalah wabah pes di awal 1900-an. Wabah pes ini merenggut hingga limabelas ribu jiwa di wilayah Jawa Timur saja. Parahnya, di lingkungan tertentu, penyakit kelamin sifilis atau raja singa ternyata sudah menjadi masalah akut. Catatan tertua di tahun 1847 bahkan sudah menyebutkan kota Gombong dalam laporan terkait penyebaran penyakit ini.

Sebuah dokumen yang memuat daftar rumah sakit di Hindia Belanda era kolonial menyebutkan bahwa di tahun 1878 telah dibangun rumah sakit khusus sifilis di Gombong. Tidak disebutkan siapa pengelola dan di mana tempatnya. Namun mengingat pada masa itu Gombong merupakan basis militer, kuat dugaan bahwa rumah sakit didirikan dan dikelola oleh satuan kesehatan militer.

Secara umum munculnya penyakit menular di Hindia Belanda disebabkan oleh kurangnya sikap hidup sehat dan kebersihan lingkungan. Gaya hidup prajurit KNIL (Belanda maupun pribumi) yang sangat bebas secara seksual menjadi tempat subur untuk tumbuh kembangnya penyakit sifilis. Perkembangan Gombong sebagai kota transit dagang tampaknya juga semakin mendukung kondisi ini.

Peneliti sejarah, Dr. Susanto Zuhdi dalam bukunya “Cilacap (1830-1942)” mengungkapkan, sebelum 1896 para pelaut Cilacap yang menderita shypilis dirujuk ke Gombong. Tampaknya pada masa itu Gombong menjadi semacam rumah sakit pusat. Namun mengingat perjalanan ke Gombong memakan waktu cukup lama, banyak pasien yang enggan berobat.

Akhirnya rumah sakit militer Cilacap difungsikan juga untuk merawat pasien penyandang sifilis di wilayah Banyumas dan Cilacap. Bupati Banyumas waktu itu mendapat kewajiban menyuplai daun sirih dalam jumlah besar sebagai salah satu bahan obat.

Rumah sakit sifilis di Gombong akhirnya ditutup pada tahun 1887. Ada beberapa kemungkinan alasan penutupannya. Yang pertama karena semakin berkurangnya kasus itu sebagai hasil meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan warga. Yang kedua, fungsi penanganan penyakit itu dilebur dengan fungsi rumah sakit militer. Hingga sekarang rumah sakit militer itu masih ada dan lebih dikenal dengan nama DKT Gombong. (M32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *