<script data-ad-client="ca-pub-9852753218845547" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
mrapat.id

Horor! Peristiwa Kelam Dibalik Bulan HUT Cilacap

Mrapat.id – Saat ini warga Cilacap tengah bersiap merayakan ulang tahun kotanya ke 163 tanggal 20 Maret mendatang. Namun di  balik kemeriahannya,  banyak yang tak sadar bahwa di bulan yang sama 78 tahun yang lalu telah menjadi hari paling kelam dalam sejarah Cilacap. Selama empat hari, kota pelabuhan itu dihujani ratusan kilo bom oleh pesawat tempur Jepang. Banyak bangunan hancur, pelabuhan porak poranda dan puluhan kapal tenggelam. Yang lebih tragis adalah tewasnya ratusan penduduk Cilacap

Di masa Hindia Belanda memang Cilacap menduduki tempat yang cukup penting. Hal ini karena keberadaan pelabuhan satu-satunya di pantai Selatan Jawa. Berbagai hasil bumi dari kawasan Yogyakarta, Bagelen dan Banyumas dikirim ke luar negeri  lewat pelabuhan itu. Karena itulah sejak dekade 1880-an, Belanda giat membangun jaringan kereta api yang menghubungkan Cilacap dengan Yogyakarta.

Selain faktor ekonomi, sebenarnya Belanda menyadari juga bahwa Cilacap memiliki arti sangat penting secara militer. Jika diibaratkan, pulau Jawa adalah sebuah rumah yang menghadap ke Utara, Cilacap merupakan pintu belakangnya. Dari sinilah tentara Belanda dapat melarikan diri jika tejadi serbuan musuh dari arah Utara.

Sayang, kesadaran ini tidak diikuti dengan langkah nyata dengan membangun fasilitas pelabuhan yang memadai. Awal Januari 1942, Jepang menduduki pelabuhan-pelabuhan penting di Utara Jawa seperti Semarang, Tuban, dan Jakarta.  Tentara dan penduduk sipil berdarah Belanda pun membanjiri Cilacap, berebut kapal ke Darwin di Australia atau Colombo di Srilangka.

Ini menjadi proses pengungsian yang kacau balau mengingat tak adanya persiapan yang memadai. Apalagi jumlah kapal sangat terbatas. Dan puncak kekacauan terjadi pada tanggal 4  hingga 5 Maret 1942.

Di tanggal 4 Maret, Jepang menyerang Cilacap dengan 18 pesawat pengebom dan 10 pesawat pemburu. Pengeboman dilakukan dari ketinggian, untuk menghindari tembakan artileri anti-serangan udara. Korban tewas mencapai 60 orang, dan semuanya pribumi.

Tak cukup hanya itu, keesokan harinya, Jepang mengerahkan 27 pengebom dan 20 pesawat pemburu. Sasaran serangan adalah kubu senjata anti pesawat milik Inggris. Dermaga hancur. Puluhan kapal Belanda dan tanker tenggelam. Jumlah korban mencapai 350 sampai 400 orang. Lagi-lagi, mayoritas korban adalah penduduk sipil pribumi.

Sayang tak banyak warga Cilacap yang mengetahui peristiwa tragis ini. Memang di depan stasiun Cilacap didirikan sebuah tugu peringatan yang konon dibangun untuk memperingati para korban. Itu pun tak jelas siapa membangun dan mengapa dibangun. Bagaimanapun, alangkah eloknya jika di sela kemeriahan ulang tahunnya, ada waktu sejenak mendoakan ratusan jiwa yang menjadi korban pemboman Maret 1942. (M32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *