mrapat.id

Ancaman Tsunami 20 Meter Pantai Selatan, Kebumen Terdampak?

Mrapat.id – Hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap jalur sepi gempa (seismic gap) di Samudera Indonesia Selatan Jawa. Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar megathrust yang membangkitkan tsunami setinggi 20 meter.

Plt. Kepala BPBD Kabupaten Kebumen, Teguh Kristiyanto mengatakan, Kebumen termasuk jalur Pantai Selatan Jawa, dengan demikian juga berpotensi tergulung ombak.

“Tsunami dengan kekuatan besar tersebut, merupakan siklus 400 tahunan. Informasi dari BMKG ini sudah disebarluaskan,” ucap Teguh Kristiyanto, Minggu (27/9) saat dihubungi Mrapat.id.

Lebih lanjut, Teguh Kristiyanto menjelaskan, sepanjang pesisir Kebumen terdiri 8 Kecamatan dan 33 desa akan terdampak. Di samping itu, akan berpotensi terjadi likuifaksi yang memicu jebolnya Waduk Sempor dan Wadaslintang.

Terkait pemantauan potensi bencana alam besar tersebut, Teguh menyatakan, pihaknya selalu melakukan uji Early Warning System (EWS) Tsunami dan alat lainnya.

“Kami tiap tanggal 26 selalu uji EWS Tsunami dan alat lainnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Guru Besar bidang Seismologi di Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro mengungkapkan hasil riset soal potensi tsunami yang dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur.

Menurutnya, tidak ada gempa besar bermagnitudo 8 atau lebih dalam beberapa ratus tahun terakhir mengindikasikan ancaman gempa tsunamigenik dahsyat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.

Ini seperti yang ditemukannya dalam studi terbaru tim yang dipimpinnya menggunakan data gempa dari katalog BMKG dan katalog International Seismological Center (ISC) periode April 2009 sampai November 2018.

Hasil pengolahan data gempa itu menunjukkan adanya zona memanjang di antara pantai selatan Pulau Jawa dan Palung Jawa yang hanya memiliki sedikit aktivitas kegempaan.

Selain analisis data gempa dan tsunami, tim memanfaatkan data GPS dari 37 stasiun yang dipasang di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama enam tahun terakhir untuk mempelajari sumber gempa di masa mendatang.

Hasil pengolahan data dengan teknik inversi data GPS ini juga digunakan sebagai model simulasi numerik tinggi tsunami di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa jika terjadi gempa besar.

Dengan membandingkan bidang deformasi yang diamati dengan model gerakan lempeng dalam jangka panjang, hasil inversi data GPS dapat mengungkap proses akumulasi regangan saat ini yang kemungkinan mencerminkan pembentukan energi regangan jangka panjang.

Jika deformasi GPS yang diamati lebih kecil daripada laju gerak lempeng (defisit slip), area tersebut berpotensi menjadi sumber gempa pada masa mendatang.

Widyantoro menerangkan pendekatan dan asumsi yang digunakan dalam studi ini serupa dengan yang digunakan untuk penelitian Palung Nankai di Jepang. Dengan mengadopsi asumsi ini, area laju gerak lempeng yang tinggi bisa pecah secara terpisah atau bersamaan saat terjadi gempa.

Luas zona defisit slip di selatan Jawa Barat setara dengan gempa bumi bermagnitudo 8,9 dengan asumsi periode ulang gempa 400 tahun sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya.

Untuk memperkirakan potensi bahaya tsunami di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, tim melakukan pemodelan tsunami dengan tiga skenario, yaitu pada segmen Jawa bagian barat, segmen Jawa bagian timur, dan segmen gabungan dari Jawa bagian barat dan timur.

Hasilnya antara lain potensi tsunami yang sangat besar dengan ketinggian maksimum 20,2 meter di dekat pulau-pulau kecil sebelah selatan Banten dan 11,7 meter di Jawa Timur.

“Tinggi tsunami bisa lebih tinggi daripada yang dimodelkan jika terjadi longsoran di dasar laut seperti yang terjadi saat Gempa Palu dengan magnitudo 7,5 pada 2018,” bunyi hasil riset itu. (CM35)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *