mrapat.id

Pilkada 2020 Kebumen: Fenomena Calon Tunggal dan Menakar Kekuatan Kolom Kosong

Mrapat.id – Pada gelaran Pilkada Serentak 2020 muncul fenomena calon tunggal di sejumlah daerah, termasuk Kebumen. Peristiwa partai politik diborong pada dasarnya bukan hal baru di Indonesia.

Sejarah itu pernah terjadi selama puluhan tahun di Indonesia, tepatnya pada masa orde baru. Saat itu keluar kebijakan di era Soeharto menyederhanakan partai politik, yakni hanya Golkar, PPP, dan PDI.

Berdalih menyederhanakan pilihan agar memudahkan masyarakat. Di sisi lain, juga demi menjaga stabilitas umum. Meski demikian, sebenarnya ujung-ujungnya hanya bagaimana melanggengkan kekuasaan rezim Soeharto.

Padahal dalam negara demokratis dibebaskan seluas-luasnya kepada rakyat untuk menyuarakan ekspresinya dalam berpolitik.

Seolah hal ini, terulang kembali pada kontestasi Pilkada serentak 2020, hanya penguasa dan partai politik yang memiliki pilihan menentukan arah berdemokrasi.

Namun demikian, di sejumlah daerah muncul perlawanan rakyat mengatasnamakan Relawan Kolom Kosong, termasuk di Kebumen. Tak disangka, ini telah bermetamorfosis menjadi kekuatan yang pantas diperhitungkan bagi pasangan calon tunggal.

Menurut Presidium Masyarakat Kolom Kosong (Mas Koko) Kebumen, Ma’rifun Arif, gerakan memenangkan kolom kosong di Kebumen akan menjadi sejarah baru perubahan cara berpikir masyarakat, dari politik pragmatisme (transaksional_red) menjadi berpolitik yang ideal.

“Kekuatan Kolom Kosong tidak bisa diukur secara matematis karena gerakannya berdasarkan kesadaran masyarakat bukan kekuatan kapital (uang_red). Mereka dengan sadar memilih gerakan ini, karena pilihan yang ada tidak sesuai dengan pilihan mereka,” ungkap Ma’rifun kepada Mrapat.id hari ini (20/10).

Lebih lanjut, Ma’rifun menerangkan masyarakat yang tergabung Mas Koko, karena menginginkan adanya perubahan di Kebumen, “Sekarang orang yang dengan kesadaran penuh sudah puluhan ribu, bahkan sudah ratusan ribu orang ingin melakukan perubahan,” ungkap Ma’rifun.

Diwawancarai secara terpisah, Kepala Kesbangpol Kebumen, Nur Taqwa Setyabudi menjelaskan, sejarah demokrasi di Indonesia berdasar pada nilai-nilai dan kultur bangsa Indonesia yang mengedepankan musyawarah.

Hanya saja menurutnya, pada proses perubahan ketentuan perundang-undangan selanjutnya ternyata dalam Pemilu terjadi dan dimungkinkan adanya calon tunggal.

“Mungkin hal ini baru sekarang terjadi di beberapa provinsi dan kabupaten atau kota termasuk kebumen. Fenomena ini mungkin tidak terduga terjadi, dan masyarakat secara umum terbiasa dengan pilihan lebih dari satu, dalam hal ini tentunya pemahaman dasar masyarakat akan menjadi salah satu pengaruh hasil pilkada,” ungkap Nur Taqwa.

Nur Taqwa Setyabudi menambahkan, apabila dilihat dari latar belakang pemikiran dasar masyarakat dalam proses Pemilu, maka Kolom Kosong bagi kelompok awam adalah bukan pilihan, lain halnya dengan kelompok masyarakat tertentu mungkin kolom kosong menjadi salah satu pertimbangan pilihan. (CM35)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *