mrapat.id

Selama Pandemi, Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat di Kebumen

Mrapat.id – Jumlah kasus kekerasan pada anak di Kebumen selama pandemi Covid-19 alami peningkatan. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, (Dispermades P3A), Kabupaten Kebumen, kasus kekerasan terhadap anak pada 2020 meningkat jumlahnya dibanding tahun sebelumnya.

Pada 2019 tercatat 135 total kasus dilaporkan. 68 kasus terjadi pada anak dan 60 kasus pada orang dewasa. Selanjutnya, pada 2020 terdapat 127 kasus. Terbagi, 84 kasus kekerasan terjadi pada anak dan selebihnya dialami kelompok usia dewasa. Meski jumlah total kasus kekerasan pada 2020 mengalami penurunan, namun untuk angka kekerasan pada anak mengalami kenaikan 16 kasus.

Menurut Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dispermades dan P3A Kebumen, Marlina Indrianingrum, angka tersebut bisa jadi lebih tinggi. Pasalnya, kata dia, kesadaran masyarakat untuk melaporkan kekerasan terhadap anak dan perempuan masih rendah.

“Masyarakat masih menganggap jika kasus kekerasan yang terjadi sebagai sebuah aib. Pihak pemerintah desa masih banyak yang cenderung melindungi tersangka. Orang tua juga sering diiming-imingi agar tutup mulut. Padahal pelaporan penting agar pelaku jera,” ujar Marlina kepada Mrapat.id saat ditemui di kantornya, Senin (15/02/21) pagi.

Berdasarkan data jenis kekerasan, kekerasan seksual menjadi jenis kekerasan yang mendominasi. Tercatat pada 2020 ada sebanyak 70 kasus kekerasan seksual. Jumlah tersebut meningkat dari 2019, yang berjumlah 50 kasus. Di posisi kedua dan ketiga kasus kekerasan yang terjadi adalah jenis kekerasan fisik dan psikis.

“Kekerasan seksual meningkat pada anak. Pelaku berasal dari keluarga, kerabat, tentangga, atau teman korban,” ungkap Marlina.

Pada saat pandemi ini, peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak meningkat karena anak-anak banyak menghabiskan waktu di rumah. Permasalahan ekonomi juga dapat menjadi faktor pendorong. Selain itu, lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak saat pandemi juga merupakan faktor pemicu peningkatan kasus tersebut.

Lebih lanjut, Marlina mengajak masyarakat agar dapat lebih berani untuk melaporkan setiap kasus kekerasan yang terjadi pada anak dan perempuan. Selain menimbulkan efek jera bagi pelaku, korban akan mendapatkan bantuan dalam proses pengurusan kasus dari dinas terkait.

“Kami akan membantu korban semaksimal mungkin. Jika tak ada uang untuk menyewa pengacara, kami menyediakan. Apabila korban butuh ke psikiater, kami juga akan membantu. Jangan khawatir karena semua gratis. Jadi, semua pihak tolong bekerja sama,” pungkas Marlina. (CM39)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *